[SEDIH gan] Cerita sangat menyentuh

Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi layaknya kehidupan normal.

Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di meja belajarku di kelas.

Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.

Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh kesedihan,

Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.

“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”

Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku memperhatikanya dengan heran,

“ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”

Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.

Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.

“ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”

Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan.

“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya

Seminggu kemudian,

Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini, mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.

“ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”

Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.

“ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”

Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”

Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang panggung.

“ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”

Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.

“ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.
Tamat.

apakah kisah ini berlanjut? anda yang tentukan.

buat yang penasaran sama lagunya silakan download

untuk lagunya

http://www.4*shared.com/file/1283090...ove_story.html

besar 10mb. tapi percayalah , anda akan menangis mendengarkan lagu ini.

terima kasih

lagu in free dan berizin



copas from http://www.kaskus.us/showthread.php?p=230899496#post230899496
thx to coolvenko

[NICE STORY] Kasih seorang Ibu

Mamaku hanya punya 1 mata, aku membencinya..dia memalukan bagi aku. Dia memasak di SMP tmp aku sekolah untuk biaya hidup kami.
Hari itu dia datang ke kelas dan menyapaku. Aku sangat malu,lalu mengacuhkannya dan berlari pergi.

Keesokan harinya,teman2 mengejekku, ingin rasanya ak menghilang. Saat pulang,aku berteriak kepadanya "Kalau kau hanya ingin membuatku jdi bahan tertawaan,kenapa kau tidak mati saja?!" Aku benar2 marah saat itu.

Aku bertekad keluar dari rumah itu dan tidak berhubungan dengan dia sama sekali. Jadi,aku belajar dgn semangat dan akhirnya mendapat beasiswa belajar d singapura. Aku menikah,punya anak dan bahagia dgn kehidupanku.

Smp suatu hari,Mama dtg ke singapura untuk menjenguk,saat di dpn pintu,anak2ku melihat dan ketakutan,saat itu juga aku berteriak "Beraninya kau dtg k rumahku,pergi dari sini,kau hanya menakuti anak2!!" Dia terkejut dan menjawab "Maafkan saya,mungkin saya salah alamat"

Setahun kemudian,dtglah undangan reuni SMP. Aku hadir. Setelah itu,ak sempat melihat 1 rumah,dimana aku tinggal saat itu,hny ingin tahu dan kt seorg tetangga mama sudah meninggal,aku tidak meneteskan air mata. Tetanggaku memberikan surat yg Mama ingin aku membacanya.
"Anakku tercinta, aku memikirkanmu setiap saat, Maafkan aku saat datang ke singapura dan menakuti anak2mu dan juga maafkan aku membuatmu malu didepan teman2mu dulu.. Semoga kamu mengerti.. Waktu kecil kamu mengalami kecelakaan dan kehilangan 1 mata,sebagai Mama, aku tdk sanggup melihatmu tumbuh dengan 1 mata,jadi aku memberikan milikku.. Aku bahagia karena anakku akan memperlihatkan seluruh dunia untukku dengan mata itu..
-With ♥, Mama-

From the book LOVE-IN-SILENCE......



copas from http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4447009
thx to coolvenko

PAGI TERAKHIR ....

PAGI TERAKHIR

Pagi hari…Aku sangat menyukai pagi. Udara yang sejuk, mentari pagi yang hangat, langit yang cerah, kabut tipis yang menyelimuti, kurasakan selalu indah. Bagiku pagi hari merupakan saat-saat yang menakjubkan, dimana semangat dan ide-ide segar selalu bermunculan.

Hari ini aku ingin memulai lembaran baru. Lembaran yang bersih, sebersih kertas polos dan seputih kapas. Aku ingin hijrah seperti hijrahnya Rasulullah. Aku ingin meninggalkan segala sisi gelapku, meninggalkan semua perbuatan dosa yang pernah aku lakukan. Ya……Pagi ini saat yang tepat untuk memulai semuanya. Niat telah kumantapkan dalam hati. Walaupun ada sedikit kebimbangan apakah aku bisa melalui semua ini ? Apakah dosa-dosaku terampuni ? Apakah Allah akan membiarkan makhluk yang hina ini mencium wangi surga ?

Aku merasa akan mati di tempat ini, di penjara yang pengap, kotor dan penuh sesak, entah mengapa pagi ini kurasakan sangat tidak bersemangat. Pembunuhan berencana dan pemakaian narkoba, telah menjeratku menuju hukuman mati. Kemungkinannya hanya dua, hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Ia bagaikan malaikat pencabut nyawa dalam pandanganku. Penasehat hukum dari Lembaga Bantuan Hukum telah memberitahuku kemungkinan terburuk, mereka mengunjungiku tadi malam dan mengatakan dua kemungkinan yang akan aku hadapi.

Hukuman mati, aku merinding mendengarnya. Aku membayangkan betapa puasnya keluarga korban mendengar kabar “baik” ini. Sebenarnya kabar baik pula untukku, karena aku akan segera tahu kapan aku akan mati. Tidak semua orang tahu kapan mereka akan meregang nyawa. Tapi aku salah satu orang yang beruntung. Begitulah setidaknya menurut Ustadz Umar, ustadz yang setiap jumat selalu memberikan tausyah-tausyah yang menyejukan hati.

Caci maki keluarga korban di setiap persidangan membuat telingaku sakit. Aku tahu aku bersalah, salah yang tak termaafkan. Tapi aku tidak pernah bermaksud membunuh wanita itu, aku hanya bermaksud menakutinya, akan tetapi dia melawan dengan begitu kuat. Saat itu aku berada di bawah kendali syaitan akibat pengaruh barang terlaknat narkotika. Masih kuingat dengan jelas wajah wanita itu di hari naas saat aku membunuhnya, wajah yang menahan sakit tak tertahankan…

Siang itu aku bertemu dengan Joni, seorang bandar narkoba kelas kakap. Dia biasa beroperasi di kalangan mahasiswa terutama anak-anak angkatan baru yang masih polos, dan aku adalah salah satu korbannya. Joni sifatnya supel, sangat mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Selain lihai memainkan gitar dia juga berwajah tampan. Hanya saja mukanya terlihat kotor. Menurut teman dekatnya, semenjak menjadi pemakai narkoba mukanya menjadi agak rusak.

Awalnya kami main bersama dalam sebuah acara band kampus, karena Joni paling senior dialah yang memegang kendali band kami. Sebagai seorang vokalis, penampilanku dia nilai masih kaku, kurang lepas dan menjiwai lagu yang kami mainkan. Sekejap dia mengeluarkan sebuah bungkusan putih, aku merasa kaget karena aku tahu itu adalah narkotik. Walaupun belum pernah melihatnya secara langsung tapi perasaan dan pikiranku tahu bahwa itu adalah barang haram. Joni segera menyuruhku menghirup barang sialan itu. Dia berceloteh penampilanku akan buruk apabila tidak menggunakan narkoba. Aku pun bimbang, terlintas bayangan ibuku, nasehat-nasehatnya agar selalu menjauhi barang haram itu, tapi rupanya syaitan telah menguasai akalku. Imanku sangat lemah, aku tak kuasa menolak untuk menghirupnya. Aku takut aku akan dikeluarkan dari grup band ini.

Dengan ragu-ragu aku pun mulai menghirup butiran-butiran putih pembunuh itu. Kurasakan sedikit perih di hidung, kuhirup lagi dengan dalam…Kurasakan sensasi aneh, badanku sedikit bergetar…Aku mulai sedikit pening, lama-kelamaan aku merasakan badanku ringan. Inikah yang disebut mabuk, fly atau apapun namanya ?

Lagu yang kami mainkan sangat enak terdengar di telinga. Aku pun menyanyi dengan penuh ekspresif, santai tanpa beban karena aku sedang berada dalam pengaruh obat. Kulihat sekilas Joni tersenyum puas menyaksikan gayaku bernyanyi. Sungguh ironis !! Aku telah menipu diriku sendiri demi sebuah penampilan yang diinginkan.

Hari itu hari jumat, hari yang agung bagi setiap muslim. Akan tetapi aku sedang sakau, sudah tiga bulan aku menjadi pecandu. Uang tabunganku sudah ludes…Tiada yang tersisa, bahkan uang SPP semesteran untuk kuliah, kupakai demi sebuah paket bungkusan barang sialan itu. Aku merasa badanku sakit semua, ku sms Joni, memintanya untuk mengutangiku hanya untuk hari ini saja. Akan tetapi dia tak bergeming. Bahkan membalas sms-ku pun tidak. Aku telpon dia…Tidak diangkat. Aku memukul-mukulkan tanganku ke lantai, begitulah aku apabila sedang merasa kesal. Aku merasa tidak dihargai sebagai teman.

Pikiranku mulai berjalan, bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cepat dan mudah. Dengan cepat syaitan membisikanku untuk merampok seseorang. Kebetulan di seberang kos-kosanku ada seorang wanita setengah baya yang tinggal sendiri, dia sudah lama ditinggal suaminya meninggal. Akal sehatku sudah tidak berjalan. Tiada lagi pertimbangan, tiada lagi ketakutan akan dosa yang akan dilakukan. Segera kuambil sebuah pisau dapur yang sangat tajam, kuselipkan di belakang celana jeansku.

Kuintai sebentar wanita itu, dia sedang menyiram tanaman hias yang berjejer rapi di halaman. Kutunggu sampai dia masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian dia beranjak masuk. Inilah kesempatanku, kubuka gagang pintu…Tidak dikunci, pastilah dia mengira tidak akan ada yang berani masuk siang bolong begini ! Namun…..Tiba-tiba aku terkejut karena wanita tadi telah muncul di depanku…Aku menjadi panik, dengan cepat kukeluarkan pisau di balik bajuku.

“Jangan teriak Bu…Jangan teriak ! Atau saya bisa nekat !! Dimana Ibu menyimpan uang dan perhiasan ?” Aku berseru sambil mengacung-acungkan pisau ke arahnya.

Wanita itu terlihat pucat pasi, aku tahu dia sangat ketakutan. Aku mencoba mendekatinya perlahan. Tapi tiba-tiba dia lari ke arah belakang rumah sambil berteriak. Dengan reflek kukejar dia. Larinya tidak cukup kencang, sehingga dengan mudah aku tangkap dia. Kubekap mulutnya dari belakang dengan tangan kiriku. Dia terus meronta, tak kusangka tenaganya sangat kuat. Sekonyong-konyong aku melihat tangan kanannya mengambil sebuah pot tanaman sebesar genggaman tangannya dan dengan cepat menghantamkannya tepat ke sebelah kanan kepalaku. Pyaarrrr….

Kepingan-kepingan tanah liat bercampur tanah berserakan di sekitar kami. Aku limbung, darah kurasakan mengucur menghalangi pandangan mata kananku. Kutahan sakit yang kurasakan, seketika amarahku memuncak !! Kutikam dia tepat di jantung dan perutnya. Satu…Dua…Tiga…Empat tikaman…… Darah segar menyembur dari perut wanita itu, kulihat darah dimana-mana, merah…. Dia sedang sekarat, rasanya pasti sangat sakit. Aku terkesiap melihat pemandangan yang mengerikan. Nafasnya tersengal, terputus-tupus, matanya membeliak menatapku. Beberapa detik kemudian ia berhenti bernafas, matanya masih saja menatapku. Aku terdiam, tak tahu yang harus kulakukan. Semuanya diluar rencana. Aku merasakan tubuhku lemas lunglai, sendi-sendi kurasakan tak dapat menahan beban tubuhku. Semuanya gelap…

Saat kusadar aku sudah berada di rumah sakit, dengan borgol di kedua tanganku. Ibu dan Bapak ada di sampingku. Ibu tak henti-hentinya menangis. Tangannya erat menggenggam tanganku.

“Ilham, bagaimana keadaanmu sayang ? Apa yang telah terjadi ?” Ibu berkata lirih, sungguh dia pasti telah tahu apa yang terjadi padaku. Kasih ibu memang sepanjang masa tiada pernah mengenal lelah walau apa yang terjadi pada buah hati sematawayangnya.

“Ibu, maafkan Ilham…Telah membuat ibu malu, sedih…Pak, maafkan Ilham telah menyusahkan bapak. Bukannya membuat bangga bapak…” Air mataku deras mengalir melihat kedua orang tuaku menangis. Aku tak kuasa menahan beban berat ini, beban yang kubuat sendiri. Aku tak kuasa menahan rasa malu pada kedua orang tuaku, rasa maluku pada keluarga, rasa maluku pada teman-teman. Aku seorang yang hina dina. Seorang pembunuh. Seorang pecandu. Seorang yang tiada guna. Rasanya aku ingin mati saja saat ini. Tiada gunanya lagi aku hidup. Cabut Tuhan…Cabut nyawaku ini sekarang juga. Jangan biarkan aku hidup dalam penderitaan.

Pagi hari ini kurasakan berbeda, ada semangat akan terus hidup. Tadi malam ustadz Umar datang ke selku. Aku tak tahu kenapa dia mengunjungiku secara pribadi, apa karena aku sering bertanya kepadanya atau karena ada suatu hal, tapi tampaknya dia mempunyai perhatian lebih padaku karena aku masih sangat muda bahkan termuda di blok B penjara ini, blok B adalah blok khusus dengan penghuni kejahatan serius seperti pembunuhan. Wajahnya yang bersih sangat menyejukkan. Pastilah air wudhu penyebabnya, sehingga wajahnya tampak selalu bersinar. Dia berada di sel sekitar 10 menit dikawal dua orang sipir.

“Assalamualaikum akhi, bagaimana kabarmu ? Senyumnya khas sekali menghiasi wajahnya.

“Namaku bukan akhi ustadz, namaku Ilham. Kabarku baik alhamdulillah.” Kucoba meluruskan kesalahan ustadz Umar.

“Ilham…akhi itu bahasa arab, panggilan untuk saudara laki-laki, aku tahu namamu Ilham. Kamu kan sering bertanya di pengajian tiap hari jumat.” Aku tersipu malu mendengar penjelasan ustadz Umar. Ilmuku ini memang sangat kurang mengenai agama, apalagi bahasa arab buta sama sekali. Dalam hati aku menertawakan diri sendiri.

“Ilham, aku tahu apa yang telah kamu perbuat sehingga kamu menjadi begini.” Ustadz Umar menghela nafas panjang.

“Yang sudah terjadi tidak dapat diputar kembali. Waktu terus bergulir maju tanpa pernah sedikitpun berhenti. Jadi jangan sia-siakan waktu. Tentunya kamu sudah bertaubat atas perbuatanmu bukan ?”

“Sudah ustadz, sejak pertama kali ustadz menyampaikan ceramah saya sudah meminta ampun kepada Allah, begitu pula kepada keluarga korban saya sudah mengirimkan surat permintaan maaf dan penyesalan saya.” Aku mencoba menjelaskan apa yang telah kuperbuat akhir-akhir ini.

“Bagus…Terus apakah kau yakin taubatmu akan diterima Allah ?” Ustadz Umar menanyakan hal yang aku tak tahu jawabannya.

“Saya tidak tahu ustadz, taubat saya diterima atau tidak. Dosa saya terlalu berat untuk dimaafkan.” Aku merasa tidak berarti dihadapan ustadz Umar apalagi dihadapan Allah.

“Ilham…Apakah kamu tahu cerita mengenai seseorang yang telah membunuh hampir seratus orang dalam hidupnya dan Allah menerima taubatnya ? Pintu maaf Allah sangatlah luas. Dia Yang Maha Pemaaf. Selama Allah belum mengambil nyawa kita, selama itulah pintu taubat selalu terbuka. Janganlah kau ragu akan kasih sayangNya pada makhluk yang meminta pertolongan. Asalkan engkau bersungguh-sungguh. Adapun salah satu ciri orang yang diterima taubatnya adalah meningkatnya ketakwaan dia kepada Allah. Apakah kau siap meningkatkan takwamu pada Allah, mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh ?” Pertanyaan Ustadz Umar menohokku.

“Saya…saya ingin menjadi orang yang beruntung ustadz…Ajarilah saya Islam. Sudah terlalu lama saya membiarkan hati dipenuhi keburukan dan mengikuti ajakan syaitan.” Kumantapkan hatiku untuk Allah SWT. Mempelajari hal yang tak pernah terbersit dalam hati walau untuk sekedar mengetahuinya. Aku mengaku beragama Islam, tapi tak ada sedikitpun tercermin pribadi yang islami. Aku lebih senang berhura-hura, bermain musik tanpa mengenal waktu dan menghabiskan waktu tanpa hal yang berguna.

Matahari beranjak keluar dari peraduannya. Semburat cahaya fajar perlahan menyinari sudut-sudut ruanganku yang pengap. Subuh baru saja berlalu, tapi aku masih merindukannya. Entah mengapa sekarang aku sering menangis apabila sedang melaksanakan shalat subuh. Rasanya aku takut tidak bisa menjumpai subuh untuk hari esok.

Persidangan demi persidangan terus berlangsung. Ibu mencarikan pengacara yang cukup terkenal, tapi kutolak mentah-mentah. Bukannya tidak menghargai usaha yang dilakukan ibu, tapi rasanya sia-sia saja. Hanya buang-buang uang. Tiada lagi yang bisa disalahkan atas semua ini kecuali aku, dan aku ingin berjiwa kesatria. Aku tidak ingin mengelak dari hukum, mungkin bisa saja di dunia aku lepas dari jerat hukum, akan tetapi apakah aku bisa lepas dari hukum Allah ?

Sudah tiga bulan aku mempelajari Islam dibimbing Ustadz Umar. Banyak perubahan, banyak ilmu yang sebelumnya aku tidak tahu menjadi sedikit terang. Aku semakin bersemangat mempelajari hal baru, namun di tengah semangat itu sidang terakhir tiba-tiba mengingatkanku pada kemungkinan vonis mati. Dua hari lagi sidang berlangsung. Kucoba melupakan pikiran-pikiran buruk dengan salat sunnah…Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hambamu yang keji ini. Apabila kematian menjadi jalanku maka mudahkanlah aku dalam sakaratul maut.

Aku duduk di kursi pesakitan. Kulihat kedua orang tuaku berwajah murung. Tidak terlihat senyum di wajah mereka. Beberapa orang memandangku dengan pandangan merendahkan, tak terkecuali keluarga korban. Kulihat di barisan kedua Ustadz Umar baru saja datang.

Hakim memulai sidang. Kudengar jaksa membacakan ikhtisar tuntutan, dilanjutkan penasehat hukumku membacakan pembelaan untukku. Tidak ada saksi-saksi lagi mereka semua telah dimintai keterangannya di sidang sebelumnya.

Hakim pun mulai membacakan hal-hal yang memberatkan dan meringankan hukumanku. Darahku terasa cepat mengalir di pembuluh nadi. Jantungku berdegap begitu kencangnya mengalahkan suara hakim yang sedang berbicara. Tiba saatnya hakim membacakan keputusannya,

“Setelah melalui beberapa persidangan dengan menghadirkan saksi-saksi dan pengakuan terdakwa, serta pertimbangan yang matang dan merujuk pada KUHP yang berlaku di negara ini maka…..Terdakwa Ilham Putra Pratama dijatuhkan hukuman…….MATI….” Suara ketokan palu hakim terdengar sangat mengerikan. Kudengar suara jeritan ibu. Kutengok ke arah belakang, kulihat ibu pingsan. Aku menangis sesenggukan…Ustadz Umar mendatangiku dan memelukku. Suasana menjadi gemuruh. Kudengan teriakan takbir dari belakang.

Hakim mencoba menenangkan suasana dengan mengetok-ngetok palu. Aku sangat sulit untuk berdiri, sendi-sendi kaki terasa sangat lemas, namun kupaksakan. Penasehat hukumku mendatangi hakim untuk menyatakan banding, akan tetapi aku tidak menyetujuinya. Aku tidak ingin banding. Tidak, aku tidak ingin banding…..

---

Pagi terakhir…Sangat indah. Ini salat subuhku yang terakhir. Kupandangi langit dari balik jeruji besi, biru sangat cerah. Aku telah siap untuk mati. Hari ini hari jumat, sama dengan hari yang mengubah hidupku menjadi seperti ini. Tetapi, kalau bukan karena hari itu mungkinkah aku bisa kembali ke jalanNya ?

Tiga orang sipir mendatangiku tepat pukul 5.45. Sesuai permintaanku, aku tak ingin mati ketika sinar matahari belum menyapa tubuhku dan ternyata permintaan itu dikabulkan. Mataku ditutup oleh selembar kain hitam. Lalu aku masuk ke dalam kendaraan khusus. Selama kurang lebih setengah jam perjalanan aku hanya berdzikir, tak henti-hentinya mengucapkan asma Allah Azzawajalla.

Mobil berhenti. Aku keluar dari kendaraan dengan mata masih tertutup kain hitam. Aku lalu dituntun menuju sebuah papan kayu yang berdiri tegak, aku disuruh bersandar. Borgolku lalu dilepas, begitu juga ikatan kain yang menutup mataku.

Kulihat aku berada di sebuah lapang kecil, ukurannya setengah lapangan sepak bola. Kulihat para aparat berwenang telah hadir, untuk menyaksikan matinya seorang pembunuh. Ustadz Umar terlihat diantara mereka. Dia menatapku tajam.

Matahari telah cukup tinggi, aku bisa merasakan hangatnya. Seorang berseragam memulai acara, membacakan putusan. Mereka lalu menanyakan apakah ada permintaan atau wasiat terakhir padaku…Aku menjawab, aku ingin salat dua rakaat sebelum nyawa dipisahkan dari raga. Mereka mengizinkannya.

Allahu Akbar, aku mulai bertakbir. Kurasakan keheningan di sekelilingku, hanya kicau burung yang menemaniku. Air mataku meleleh, tak henti-hentinya. Ini salat terakhirku, dan baru kali ini aku merasakan sangat khusuk dalam salat. Aku sujud sangat lama, rasanya tak ingin mengangkat kepala ini untuk tasyahud akhir. Setelah salam aku berdiri, hatiku mulai ciut. Bagaimanakah rasanya mati, rasanya sekarat, bagaimana rasanya merasakan sakit yang tak tertahan seperti wanita yang kubunuh hari itu…

Ustadz Umar mendatangiku…Dia memelukku erat, aku pun menangis sejadi-jadinya.

“Aku takut ustadz….aku sangat takut….” Badanku bergetar.

“Tenanglah akhi…semua orang pasti akan mengalami saat sepertimu, hanya waktu yang membedakan. Pasrahlah kepada Allah. Yakinlah taubatmu diterima. Rindukanlah Dia, Dia Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mematikan. Rindukanlah saat-saat berjumpa dengan Penciptamu.”

Ustadz Umar melepaskan pelukannya. Dua belas penembak jitu telah siap dihadapanku dengan senjata laras panjang terkokang.

Kupandangi langit yang masih biru, ada bintang kejora disana. Ia belum hilang walau hari telah terang, apakah ia menungguku ? Seorang sipir hendak menutupkan kain hitam di kepalaku, tapi aku tak mau. Aku ingin melihat indahnya pagi….Pagi terakhir….



“Ibu…derai-derai air mata berakhir sudah. Kefanaan hidup akan kujumpai di ujung waktu. Cintamu padaku tak akan kulupakan. Di akhirat nanti kita akan bertemu. Berbahagialah ibu, karena aku mati dalam iman, dalam basah bibirku menyebut namaNya.”



Jangan kau dahulukan dunia, karena akhirat akan tertinggal, tapi
Dahulukanlah akhirat, maka duniapun akan mengikuti



copas dari "http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4359024"
thx bro howlet.

 
Designed byTechtrends |© 2007-2008 All rights reserved