PAGI TERAKHIR ....
PAGI TERAKHIR
Pagi hari…Aku sangat menyukai pagi. Udara yang sejuk, mentari pagi yang hangat, langit yang cerah, kabut tipis yang menyelimuti, kurasakan selalu indah. Bagiku pagi hari merupakan saat-saat yang menakjubkan, dimana semangat dan ide-ide segar selalu bermunculan.
Hari ini aku ingin memulai lembaran baru. Lembaran yang bersih, sebersih kertas polos dan seputih kapas. Aku ingin hijrah seperti hijrahnya Rasulullah. Aku ingin meninggalkan segala sisi gelapku, meninggalkan semua perbuatan dosa yang pernah aku lakukan. Ya……Pagi ini saat yang tepat untuk memulai semuanya. Niat telah kumantapkan dalam hati. Walaupun ada sedikit kebimbangan apakah aku bisa melalui semua ini ? Apakah dosa-dosaku terampuni ? Apakah Allah akan membiarkan makhluk yang hina ini mencium wangi surga ?
Aku merasa akan mati di tempat ini, di penjara yang pengap, kotor dan penuh sesak, entah mengapa pagi ini kurasakan sangat tidak bersemangat. Pembunuhan berencana dan pemakaian narkoba, telah menjeratku menuju hukuman mati. Kemungkinannya hanya dua, hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Ia bagaikan malaikat pencabut nyawa dalam pandanganku. Penasehat hukum dari Lembaga Bantuan Hukum telah memberitahuku kemungkinan terburuk, mereka mengunjungiku tadi malam dan mengatakan dua kemungkinan yang akan aku hadapi.
Hukuman mati, aku merinding mendengarnya. Aku membayangkan betapa puasnya keluarga korban mendengar kabar “baik” ini. Sebenarnya kabar baik pula untukku, karena aku akan segera tahu kapan aku akan mati. Tidak semua orang tahu kapan mereka akan meregang nyawa. Tapi aku salah satu orang yang beruntung. Begitulah setidaknya menurut Ustadz Umar, ustadz yang setiap jumat selalu memberikan tausyah-tausyah yang menyejukan hati.
Caci maki keluarga korban di setiap persidangan membuat telingaku sakit. Aku tahu aku bersalah, salah yang tak termaafkan. Tapi aku tidak pernah bermaksud membunuh wanita itu, aku hanya bermaksud menakutinya, akan tetapi dia melawan dengan begitu kuat. Saat itu aku berada di bawah kendali syaitan akibat pengaruh barang terlaknat narkotika. Masih kuingat dengan jelas wajah wanita itu di hari naas saat aku membunuhnya, wajah yang menahan sakit tak tertahankan…
Siang itu aku bertemu dengan Joni, seorang bandar narkoba kelas kakap. Dia biasa beroperasi di kalangan mahasiswa terutama anak-anak angkatan baru yang masih polos, dan aku adalah salah satu korbannya. Joni sifatnya supel, sangat mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Selain lihai memainkan gitar dia juga berwajah tampan. Hanya saja mukanya terlihat kotor. Menurut teman dekatnya, semenjak menjadi pemakai narkoba mukanya menjadi agak rusak.
Awalnya kami main bersama dalam sebuah acara band kampus, karena Joni paling senior dialah yang memegang kendali band kami. Sebagai seorang vokalis, penampilanku dia nilai masih kaku, kurang lepas dan menjiwai lagu yang kami mainkan. Sekejap dia mengeluarkan sebuah bungkusan putih, aku merasa kaget karena aku tahu itu adalah narkotik. Walaupun belum pernah melihatnya secara langsung tapi perasaan dan pikiranku tahu bahwa itu adalah barang haram. Joni segera menyuruhku menghirup barang sialan itu. Dia berceloteh penampilanku akan buruk apabila tidak menggunakan narkoba. Aku pun bimbang, terlintas bayangan ibuku, nasehat-nasehatnya agar selalu menjauhi barang haram itu, tapi rupanya syaitan telah menguasai akalku. Imanku sangat lemah, aku tak kuasa menolak untuk menghirupnya. Aku takut aku akan dikeluarkan dari grup band ini.
Dengan ragu-ragu aku pun mulai menghirup butiran-butiran putih pembunuh itu. Kurasakan sedikit perih di hidung, kuhirup lagi dengan dalam…Kurasakan sensasi aneh, badanku sedikit bergetar…Aku mulai sedikit pening, lama-kelamaan aku merasakan badanku ringan. Inikah yang disebut mabuk, fly atau apapun namanya ?
Lagu yang kami mainkan sangat enak terdengar di telinga. Aku pun menyanyi dengan penuh ekspresif, santai tanpa beban karena aku sedang berada dalam pengaruh obat. Kulihat sekilas Joni tersenyum puas menyaksikan gayaku bernyanyi. Sungguh ironis !! Aku telah menipu diriku sendiri demi sebuah penampilan yang diinginkan.
Hari itu hari jumat, hari yang agung bagi setiap muslim. Akan tetapi aku sedang sakau, sudah tiga bulan aku menjadi pecandu. Uang tabunganku sudah ludes…Tiada yang tersisa, bahkan uang SPP semesteran untuk kuliah, kupakai demi sebuah paket bungkusan barang sialan itu. Aku merasa badanku sakit semua, ku sms Joni, memintanya untuk mengutangiku hanya untuk hari ini saja. Akan tetapi dia tak bergeming. Bahkan membalas sms-ku pun tidak. Aku telpon dia…Tidak diangkat. Aku memukul-mukulkan tanganku ke lantai, begitulah aku apabila sedang merasa kesal. Aku merasa tidak dihargai sebagai teman.
Pikiranku mulai berjalan, bagaimana caranya mendapatkan uang dengan cepat dan mudah. Dengan cepat syaitan membisikanku untuk merampok seseorang. Kebetulan di seberang kos-kosanku ada seorang wanita setengah baya yang tinggal sendiri, dia sudah lama ditinggal suaminya meninggal. Akal sehatku sudah tidak berjalan. Tiada lagi pertimbangan, tiada lagi ketakutan akan dosa yang akan dilakukan. Segera kuambil sebuah pisau dapur yang sangat tajam, kuselipkan di belakang celana jeansku.
Kuintai sebentar wanita itu, dia sedang menyiram tanaman hias yang berjejer rapi di halaman. Kutunggu sampai dia masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian dia beranjak masuk. Inilah kesempatanku, kubuka gagang pintu…Tidak dikunci, pastilah dia mengira tidak akan ada yang berani masuk siang bolong begini ! Namun…..Tiba-tiba aku terkejut karena wanita tadi telah muncul di depanku…Aku menjadi panik, dengan cepat kukeluarkan pisau di balik bajuku.
“Jangan teriak Bu…Jangan teriak ! Atau saya bisa nekat !! Dimana Ibu menyimpan uang dan perhiasan ?” Aku berseru sambil mengacung-acungkan pisau ke arahnya.
Wanita itu terlihat pucat pasi, aku tahu dia sangat ketakutan. Aku mencoba mendekatinya perlahan. Tapi tiba-tiba dia lari ke arah belakang rumah sambil berteriak. Dengan reflek kukejar dia. Larinya tidak cukup kencang, sehingga dengan mudah aku tangkap dia. Kubekap mulutnya dari belakang dengan tangan kiriku. Dia terus meronta, tak kusangka tenaganya sangat kuat. Sekonyong-konyong aku melihat tangan kanannya mengambil sebuah pot tanaman sebesar genggaman tangannya dan dengan cepat menghantamkannya tepat ke sebelah kanan kepalaku. Pyaarrrr….
Kepingan-kepingan tanah liat bercampur tanah berserakan di sekitar kami. Aku limbung, darah kurasakan mengucur menghalangi pandangan mata kananku. Kutahan sakit yang kurasakan, seketika amarahku memuncak !! Kutikam dia tepat di jantung dan perutnya. Satu…Dua…Tiga…Empat tikaman…… Darah segar menyembur dari perut wanita itu, kulihat darah dimana-mana, merah…. Dia sedang sekarat, rasanya pasti sangat sakit. Aku terkesiap melihat pemandangan yang mengerikan. Nafasnya tersengal, terputus-tupus, matanya membeliak menatapku. Beberapa detik kemudian ia berhenti bernafas, matanya masih saja menatapku. Aku terdiam, tak tahu yang harus kulakukan. Semuanya diluar rencana. Aku merasakan tubuhku lemas lunglai, sendi-sendi kurasakan tak dapat menahan beban tubuhku. Semuanya gelap…
Saat kusadar aku sudah berada di rumah sakit, dengan borgol di kedua tanganku. Ibu dan Bapak ada di sampingku. Ibu tak henti-hentinya menangis. Tangannya erat menggenggam tanganku.
“Ilham, bagaimana keadaanmu sayang ? Apa yang telah terjadi ?” Ibu berkata lirih, sungguh dia pasti telah tahu apa yang terjadi padaku. Kasih ibu memang sepanjang masa tiada pernah mengenal lelah walau apa yang terjadi pada buah hati sematawayangnya.
“Ibu, maafkan Ilham…Telah membuat ibu malu, sedih…Pak, maafkan Ilham telah menyusahkan bapak. Bukannya membuat bangga bapak…” Air mataku deras mengalir melihat kedua orang tuaku menangis. Aku tak kuasa menahan beban berat ini, beban yang kubuat sendiri. Aku tak kuasa menahan rasa malu pada kedua orang tuaku, rasa maluku pada keluarga, rasa maluku pada teman-teman. Aku seorang yang hina dina. Seorang pembunuh. Seorang pecandu. Seorang yang tiada guna. Rasanya aku ingin mati saja saat ini. Tiada gunanya lagi aku hidup. Cabut Tuhan…Cabut nyawaku ini sekarang juga. Jangan biarkan aku hidup dalam penderitaan.
Pagi hari ini kurasakan berbeda, ada semangat akan terus hidup. Tadi malam ustadz Umar datang ke selku. Aku tak tahu kenapa dia mengunjungiku secara pribadi, apa karena aku sering bertanya kepadanya atau karena ada suatu hal, tapi tampaknya dia mempunyai perhatian lebih padaku karena aku masih sangat muda bahkan termuda di blok B penjara ini, blok B adalah blok khusus dengan penghuni kejahatan serius seperti pembunuhan. Wajahnya yang bersih sangat menyejukkan. Pastilah air wudhu penyebabnya, sehingga wajahnya tampak selalu bersinar. Dia berada di sel sekitar 10 menit dikawal dua orang sipir.
“Assalamualaikum akhi, bagaimana kabarmu ? Senyumnya khas sekali menghiasi wajahnya.
“Namaku bukan akhi ustadz, namaku Ilham. Kabarku baik alhamdulillah.” Kucoba meluruskan kesalahan ustadz Umar.
“Ilham…akhi itu bahasa arab, panggilan untuk saudara laki-laki, aku tahu namamu Ilham. Kamu kan sering bertanya di pengajian tiap hari jumat.” Aku tersipu malu mendengar penjelasan ustadz Umar. Ilmuku ini memang sangat kurang mengenai agama, apalagi bahasa arab buta sama sekali. Dalam hati aku menertawakan diri sendiri.
“Ilham, aku tahu apa yang telah kamu perbuat sehingga kamu menjadi begini.” Ustadz Umar menghela nafas panjang.
“Yang sudah terjadi tidak dapat diputar kembali. Waktu terus bergulir maju tanpa pernah sedikitpun berhenti. Jadi jangan sia-siakan waktu. Tentunya kamu sudah bertaubat atas perbuatanmu bukan ?”
“Sudah ustadz, sejak pertama kali ustadz menyampaikan ceramah saya sudah meminta ampun kepada Allah, begitu pula kepada keluarga korban saya sudah mengirimkan surat permintaan maaf dan penyesalan saya.” Aku mencoba menjelaskan apa yang telah kuperbuat akhir-akhir ini.
“Bagus…Terus apakah kau yakin taubatmu akan diterima Allah ?” Ustadz Umar menanyakan hal yang aku tak tahu jawabannya.
“Saya tidak tahu ustadz, taubat saya diterima atau tidak. Dosa saya terlalu berat untuk dimaafkan.” Aku merasa tidak berarti dihadapan ustadz Umar apalagi dihadapan Allah.
“Ilham…Apakah kamu tahu cerita mengenai seseorang yang telah membunuh hampir seratus orang dalam hidupnya dan Allah menerima taubatnya ? Pintu maaf Allah sangatlah luas. Dia Yang Maha Pemaaf. Selama Allah belum mengambil nyawa kita, selama itulah pintu taubat selalu terbuka. Janganlah kau ragu akan kasih sayangNya pada makhluk yang meminta pertolongan. Asalkan engkau bersungguh-sungguh. Adapun salah satu ciri orang yang diterima taubatnya adalah meningkatnya ketakwaan dia kepada Allah. Apakah kau siap meningkatkan takwamu pada Allah, mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh ?” Pertanyaan Ustadz Umar menohokku.
“Saya…saya ingin menjadi orang yang beruntung ustadz…Ajarilah saya Islam. Sudah terlalu lama saya membiarkan hati dipenuhi keburukan dan mengikuti ajakan syaitan.” Kumantapkan hatiku untuk Allah SWT. Mempelajari hal yang tak pernah terbersit dalam hati walau untuk sekedar mengetahuinya. Aku mengaku beragama Islam, tapi tak ada sedikitpun tercermin pribadi yang islami. Aku lebih senang berhura-hura, bermain musik tanpa mengenal waktu dan menghabiskan waktu tanpa hal yang berguna.
Matahari beranjak keluar dari peraduannya. Semburat cahaya fajar perlahan menyinari sudut-sudut ruanganku yang pengap. Subuh baru saja berlalu, tapi aku masih merindukannya. Entah mengapa sekarang aku sering menangis apabila sedang melaksanakan shalat subuh. Rasanya aku takut tidak bisa menjumpai subuh untuk hari esok.
Persidangan demi persidangan terus berlangsung. Ibu mencarikan pengacara yang cukup terkenal, tapi kutolak mentah-mentah. Bukannya tidak menghargai usaha yang dilakukan ibu, tapi rasanya sia-sia saja. Hanya buang-buang uang. Tiada lagi yang bisa disalahkan atas semua ini kecuali aku, dan aku ingin berjiwa kesatria. Aku tidak ingin mengelak dari hukum, mungkin bisa saja di dunia aku lepas dari jerat hukum, akan tetapi apakah aku bisa lepas dari hukum Allah ?
Sudah tiga bulan aku mempelajari Islam dibimbing Ustadz Umar. Banyak perubahan, banyak ilmu yang sebelumnya aku tidak tahu menjadi sedikit terang. Aku semakin bersemangat mempelajari hal baru, namun di tengah semangat itu sidang terakhir tiba-tiba mengingatkanku pada kemungkinan vonis mati. Dua hari lagi sidang berlangsung. Kucoba melupakan pikiran-pikiran buruk dengan salat sunnah…Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hambamu yang keji ini. Apabila kematian menjadi jalanku maka mudahkanlah aku dalam sakaratul maut.
Aku duduk di kursi pesakitan. Kulihat kedua orang tuaku berwajah murung. Tidak terlihat senyum di wajah mereka. Beberapa orang memandangku dengan pandangan merendahkan, tak terkecuali keluarga korban. Kulihat di barisan kedua Ustadz Umar baru saja datang.
Hakim memulai sidang. Kudengar jaksa membacakan ikhtisar tuntutan, dilanjutkan penasehat hukumku membacakan pembelaan untukku. Tidak ada saksi-saksi lagi mereka semua telah dimintai keterangannya di sidang sebelumnya.
Hakim pun mulai membacakan hal-hal yang memberatkan dan meringankan hukumanku. Darahku terasa cepat mengalir di pembuluh nadi. Jantungku berdegap begitu kencangnya mengalahkan suara hakim yang sedang berbicara. Tiba saatnya hakim membacakan keputusannya,
“Setelah melalui beberapa persidangan dengan menghadirkan saksi-saksi dan pengakuan terdakwa, serta pertimbangan yang matang dan merujuk pada KUHP yang berlaku di negara ini maka…..Terdakwa Ilham Putra Pratama dijatuhkan hukuman…….MATI….” Suara ketokan palu hakim terdengar sangat mengerikan. Kudengar suara jeritan ibu. Kutengok ke arah belakang, kulihat ibu pingsan. Aku menangis sesenggukan…Ustadz Umar mendatangiku dan memelukku. Suasana menjadi gemuruh. Kudengan teriakan takbir dari belakang.
Hakim mencoba menenangkan suasana dengan mengetok-ngetok palu. Aku sangat sulit untuk berdiri, sendi-sendi kaki terasa sangat lemas, namun kupaksakan. Penasehat hukumku mendatangi hakim untuk menyatakan banding, akan tetapi aku tidak menyetujuinya. Aku tidak ingin banding. Tidak, aku tidak ingin banding…..
---
Pagi terakhir…Sangat indah. Ini salat subuhku yang terakhir. Kupandangi langit dari balik jeruji besi, biru sangat cerah. Aku telah siap untuk mati. Hari ini hari jumat, sama dengan hari yang mengubah hidupku menjadi seperti ini. Tetapi, kalau bukan karena hari itu mungkinkah aku bisa kembali ke jalanNya ?
Tiga orang sipir mendatangiku tepat pukul 5.45. Sesuai permintaanku, aku tak ingin mati ketika sinar matahari belum menyapa tubuhku dan ternyata permintaan itu dikabulkan. Mataku ditutup oleh selembar kain hitam. Lalu aku masuk ke dalam kendaraan khusus. Selama kurang lebih setengah jam perjalanan aku hanya berdzikir, tak henti-hentinya mengucapkan asma Allah Azzawajalla.
Mobil berhenti. Aku keluar dari kendaraan dengan mata masih tertutup kain hitam. Aku lalu dituntun menuju sebuah papan kayu yang berdiri tegak, aku disuruh bersandar. Borgolku lalu dilepas, begitu juga ikatan kain yang menutup mataku.
Kulihat aku berada di sebuah lapang kecil, ukurannya setengah lapangan sepak bola. Kulihat para aparat berwenang telah hadir, untuk menyaksikan matinya seorang pembunuh. Ustadz Umar terlihat diantara mereka. Dia menatapku tajam.
Matahari telah cukup tinggi, aku bisa merasakan hangatnya. Seorang berseragam memulai acara, membacakan putusan. Mereka lalu menanyakan apakah ada permintaan atau wasiat terakhir padaku…Aku menjawab, aku ingin salat dua rakaat sebelum nyawa dipisahkan dari raga. Mereka mengizinkannya.
Allahu Akbar, aku mulai bertakbir. Kurasakan keheningan di sekelilingku, hanya kicau burung yang menemaniku. Air mataku meleleh, tak henti-hentinya. Ini salat terakhirku, dan baru kali ini aku merasakan sangat khusuk dalam salat. Aku sujud sangat lama, rasanya tak ingin mengangkat kepala ini untuk tasyahud akhir. Setelah salam aku berdiri, hatiku mulai ciut. Bagaimanakah rasanya mati, rasanya sekarat, bagaimana rasanya merasakan sakit yang tak tertahan seperti wanita yang kubunuh hari itu…
Ustadz Umar mendatangiku…Dia memelukku erat, aku pun menangis sejadi-jadinya.
“Aku takut ustadz….aku sangat takut….” Badanku bergetar.
“Tenanglah akhi…semua orang pasti akan mengalami saat sepertimu, hanya waktu yang membedakan. Pasrahlah kepada Allah. Yakinlah taubatmu diterima. Rindukanlah Dia, Dia Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mematikan. Rindukanlah saat-saat berjumpa dengan Penciptamu.”
Ustadz Umar melepaskan pelukannya. Dua belas penembak jitu telah siap dihadapanku dengan senjata laras panjang terkokang.
Kupandangi langit yang masih biru, ada bintang kejora disana. Ia belum hilang walau hari telah terang, apakah ia menungguku ? Seorang sipir hendak menutupkan kain hitam di kepalaku, tapi aku tak mau. Aku ingin melihat indahnya pagi….Pagi terakhir….
“Ibu…derai-derai air mata berakhir sudah. Kefanaan hidup akan kujumpai di ujung waktu. Cintamu padaku tak akan kulupakan. Di akhirat nanti kita akan bertemu. Berbahagialah ibu, karena aku mati dalam iman, dalam basah bibirku menyebut namaNya.”
Jangan kau dahulukan dunia, karena akhirat akan tertinggal, tapi
Dahulukanlah akhirat, maka duniapun akan mengikuti
copas dari "http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4359024"
thx bro howlet.
0 komentar:
Posting Komentar